Standar Mutu Telur Ayam Terbaru Departemen Perindustrian dan Perdagangan

Standar Mutu Telur Ayam Terbaru Departemen Perindustrian dan Perdagangan – Departemen Perindustrian dan Perdagangan menetapkan mutu telur standar ekspor dalam dua kategori: Mutu I dan Mutu II. Untuk mutu I, kulitnya harus seragam dengan batas toleransi perbedaan 5%, kerusakan dalam satu kemasan tidak boleh lebih dari 2%, telur juga harus bersih dari benda-benda yang menempel di bagian kulitnya.

Standar Mutu Telur Ayam

Untuk standar mutu II, batas toleransi perbedaan warna kulitnya adalah 10%, bobot yang tidak standar toleransinya 10%, tingkat kerusakan hanya diizinkan 5%, dan tetap harus bersih sama dengan standar mutu I. Pengemasan harus menggunakan karton atau bahan lain. Maksimal, heraf satu kemasannya 30 kg. Di bagian luar kemasan ditulisi jenis mutu, nama produsen (perusahaan), berat bersih, dan berat kotor.

Berdasarkan standar mutu yang ada untuk cara memasarkan telur ayam dan bibit sama saja dengan memasarkan produk lain. Perbedaannya hanya terletak dalam produknya. Artinya, dalam hal ini, produk yang akan dipasarkan adalah telur dan bibit. Namun, cara memasarkannya tetap sama, hanya ada beberapa prinsip yang harus diperhankan. Sebagai patokan, beberapa langkah berikut perlu diperhatikan.

  • Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang peluang pasar ayam buras dan telurnya. Informasi dapat diperoleh dari perorangan, perusahaan, atau instansi pemerintah. Dapatkan segera informasi tentang pemasaran telur dan penjualan bibit, berupa DOC dan pulet (ayam siap bertelur). Dalam informasi tersebut, yang penting ditekankan adalah harga beli, harga jual, cara penjualan dan pembayaran, serta kebutuhan rutin. Kehumhan rutin ini menyangkut kebutuhan harian, mingguan, dan bulanan. Juga harus diketahui mengenai waktu menjual: kapan harga sedang tinggi, kapan harga sedang turun.
  • Pelajari mata rantai tataniaga telur ayam cemani. Tataniaga ini harus diketahui dengan baik karena menyangkut distribusi telur. Rantai tataniaga yang terlalu rumit atau terlalu panjang, cenderung merugikan produsen karena perbedaan harga di konsumen dengan di produsen menjadi sangat jauh. Padahal, telur merupakan kebutuhan sehari-hari sehingga sangat peka dalam harga. Harga yang tinggi akan menyebabkan permintaan menurun. Oleh karena itu, mengenai dengan baik rantai tataniaga akan sangat membantu dalam menentukan harga.
  • Temukan calon pembeli potensial. Artinya, sebisa mungkin menemukan pembeli yang membayar secara tunai. Di dalam sistem dagang, dikenal pembayaran tunai, kredit, dan konsinyasi. Tunai berarti begitu diserahkan, telur langsung dibayar. Dengan begitu, penjual memiliki uang kontan dengan cepat. Jika dikredit berarti pembeli membayar dalam tempo tertentu, misalnya satu atau dua bulan kemudian. Sementara itu, konsinyasi berarti menjual kepada pedagang perantara, dan pedagang perantara baru membayar setelah telur yang dijualnya habis. Sebaiknya hindari penjualan dengan cara terakhir ini, apalagi untuk usaha skala rumah tangga yang modalnya pas-pasaan.

Para pembeli telur yang potensial sebagai berikut:

  1. Pedagang pengumpul telur.
  2. Warung atau toko kelontong yang menjual telur ayam kampung.
  3. Agen atau kios jamu seduh.
  4. Pedagang jamu keliling (jamu gendong).
  5. Koperasi pedagang kebutuhan pokok.
  6. Koperasi warteg.
  7. Warung makan.
  8. Penjual sayur keliling.

Sementara itu, pembeli DOC, telur tetas, dan pulet yang potensial sebagai berikut:

  1. Anggota kclompok.
  2. Peternak pemula.
  3. Pedagang perantara.

Jika usaha masih kecil, peternak biasanya melakukan strategi pembentukan kelompok. Peternak pemula bisa menjadi plasma dari peternak lama atau peternak besar. Bisa juga masuk ke dalam kelompok yang sudah ada sebelumnya. Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan usaha (produksi).

Strategi ini berarti bebcrapa peternak memikul berbagai masalah dan kebutuhan kelompok yang harus dicarikan jalan keluarnya. Strategi ini sangat baik, terutama dalam meningkatkan posisi tawar-menawar dengan pembeli atau pemasok.

Beberapa keuntungan dari strategi ini sebagai berikut.

  1. Hasil produksi bcrupa telur dan DOC menjadi mudah dipasarkan.
  2. Skala usaha kecil menjadi lebih cfisien karcna penyediaan bahannya bisa dilakukan sccara kolektif, ehingga harga material, sepcrti bibit, pakan, dan obat-obatan, menjadi lebih murah.
  3. Biaya pengangkuran bisa lebih ditekan karena dilakukan dalam jumlah besar.
  4. Wilayah pemasaran bcrtambah luas karena besarnya jumlah produksi.
  5. Proses tawar-menawar menjadi stabil karena kelompok yang menentukan.
  6. Bibit diadakan sendiri sehingga tidak ada masalah tentang penyediaannya.
  7. Memungkinkan untuk adanya dana tabungan yang bisa digunakan oleh anggota yang membutuhkan.
  8. Memungkinkan adanya pelatihan serta tukar-menukar pcngalaman dengan sesama anggota kelompok.
  9. Pemerintah melalui Dinas Peternakan lcbih mudah memberikan penyuluhan dan pembinaan.
  10. Memberikan kontribusi kepada sektor kegiatan lain.

Melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari berkelompok, pembentukan kelompok merupakan keharusan untuk mengembangkan sistem peternakan yang handal. Dan untuk menujang keberhasilan Anda dalam usaha ternak telur ayam, menetaskan telur dengan mesin penetas telur otomatis merupakan pilihan yang tepat karena dengan alat bantu tersebut, Anda dapat menetaskan telur dalam jumlah yang banyak sekaligus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *